Sering kita berpikir bahwa hidup kita adalah tergantung pada diri kita. Benarkah sinyalemen itu? Bahwa hidup harus berupaya, dan melakukan ikhtiar-usaha, itu adalah hal yang benar, karena itu dimensi manusiawi,dan telah disebutkan dalam kitab suci bahwa manusia harus berusaha, dan tidak putus asa dalam berusaha dan berharap akan kemurahan Tuhan. Sebab itulah, jangan dilupakan, hidup kita dilingkupi pula dengan dimensi ketuhanan.
Dalam dimensi manusia, pikirkan bahwa hidup kita tidak pernah mati, dan kehidupan ini sangan tergantung usaha kita. Bahwa air yang mengalir ke hilir dapat kita usahakan berhenti dengan membendungnya, bahwa air yang di dalam tanah dapat kita keluarkan dengan menggali. Demikianlah, upaya kita akan membuahkan hasil, sebagaimana yang kita harapkan. Namun, ada kalanya hujan terlalu besar di hulu sungai, dan bendungan harus diselamatkan. Maka, pintu air kita buka, kemudian airpun mengalirlah. Ada kalanya pula, air terlalu cepat memenuhi bendungan, dan bendungan menjadi rusak. Demikian pula, ada kalanya kita tidak menemukan mata air dalam penggalian, maka kenyataan ini harus disikapi dengan berpindah lokasi mencari tempat penggalian baru. Untuk menyikapi suasana yang di luar perkiraan tadi, haruskah kita menyatakan kekecewaan yang mendalam? Memang perhitungan perlu, namun kepasrahan tentang mungkinnya terjadi kegagalan, harus pula diingat dan diyakini. Dalam hal inilah peran dimensi Tuhan harus melingkupi suasana hati kita, agar tidak kecewa, dan tidak putus asa.
Segala-galanya, sikapilah dengan kehendak yang kuat untuk berusaha, dan keikhlasan untuk menerima putusanNya, maka hidup ini akan indah. Kehidupan yang dipasrahkan semata atas usaha, atau semata atas putusanNya berarti kita melupakan dimensi kita dan Tuhan kita. Demikianlah... semoga bermanfaat
2007-07-11 @ 08:51